Mesan makanan random dapat yang kurang enak, ngeluh. Disalip
motor, memaki. Kecipratan genangan air, menyumpah. Kelaparan di tengah
malam dingin saat tidak ada stok makanan di kosan, ngetweet panjang
lebar. Dikasih sakit, baru aja 5 hari, udah menutup diri dari apapun.
Musibah katanya?
Dapat pujian sedikit, besar kepala. Diberi kebaikan oleh orang lain, spekulasinya udah kemana-mana. Diberi lebih, selalu minta lagi. Mendapat kesempatan jatuh cinta. Baru sesaat saja sudah lupa dengan yang memberi cinta. Terlena katanya?
Mudah sekali termanipulasi keadaan. Seakan-akan manusia itu tidak lebih tebal dari kulit gelembung sabun. Disentuh sedikit, pecah. Diberi kesulitan, salah. Diberi kemudahan, salah. Belum lagi, selalu mencari kambing hitam. Lalu memaki Tuhan saat ia dikambingkan. Padahal, manusia adalah tempat salah dan lupa, katanya. Karena kalau benar begitu, wajar saja bawa-bawa kambing kemana-mana.
Ah, maunya apa sih? Banyak kan ya? Ini itu semuanya mau. Saya sih begitu. Tapi daripada memperbesar kapasitas untuk menerima, saya lebih sering sibuk berputar-putar dalam alam fantasi dan spekulasi yang tak ada habisnya. Padahal, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS.2:286).
Sulit sekali menjadi lemah.
Tapi, saya menemukan kebahagiannya.
Cuma yang bodoh yang bisa jadi pintar. Cuma yang lemah yang bisa jadi kuat. Padahal ya, nanti kalau sudah kuat, ternyata masih ada yang lebih kuat, dan begitu seterusnya. Maka, mungkin sejatinya manusia itu memang harus selalu lemah, supaya terus tumbuh. Kenapa tumbuh? Mungkin untuk memenuhi salah satu kriteria untuk dikategorikan sebagai makhluk hidup? Bebaslah itu. Topik lain. Yang menjadi pertanyaan penting sebenarnya, dari mana datangnya kekuatan untuk tumbuh, untuk jadi lebih kuat? dimana? bagaimana?
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS.2:45-46)
Sulit ya? Padahal, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tiada menghendaki kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ah.
Masih banyak yang harus dikerjakan. Untung saya manusia. Untung manusia lemah. Kalau tidak saya tidak akan pernah tahu bagaimana hidup dan menjadi lebih baik.
Dapat pujian sedikit, besar kepala. Diberi kebaikan oleh orang lain, spekulasinya udah kemana-mana. Diberi lebih, selalu minta lagi. Mendapat kesempatan jatuh cinta. Baru sesaat saja sudah lupa dengan yang memberi cinta. Terlena katanya?
Mudah sekali termanipulasi keadaan. Seakan-akan manusia itu tidak lebih tebal dari kulit gelembung sabun. Disentuh sedikit, pecah. Diberi kesulitan, salah. Diberi kemudahan, salah. Belum lagi, selalu mencari kambing hitam. Lalu memaki Tuhan saat ia dikambingkan. Padahal, manusia adalah tempat salah dan lupa, katanya. Karena kalau benar begitu, wajar saja bawa-bawa kambing kemana-mana.
Ah, maunya apa sih? Banyak kan ya? Ini itu semuanya mau. Saya sih begitu. Tapi daripada memperbesar kapasitas untuk menerima, saya lebih sering sibuk berputar-putar dalam alam fantasi dan spekulasi yang tak ada habisnya. Padahal, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS.2:286).
Sulit sekali menjadi lemah.
Tapi, saya menemukan kebahagiannya.
Cuma yang bodoh yang bisa jadi pintar. Cuma yang lemah yang bisa jadi kuat. Padahal ya, nanti kalau sudah kuat, ternyata masih ada yang lebih kuat, dan begitu seterusnya. Maka, mungkin sejatinya manusia itu memang harus selalu lemah, supaya terus tumbuh. Kenapa tumbuh? Mungkin untuk memenuhi salah satu kriteria untuk dikategorikan sebagai makhluk hidup? Bebaslah itu. Topik lain. Yang menjadi pertanyaan penting sebenarnya, dari mana datangnya kekuatan untuk tumbuh, untuk jadi lebih kuat? dimana? bagaimana?
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS.2:45-46)
Sulit ya? Padahal, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tiada menghendaki kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ah.
Masih banyak yang harus dikerjakan. Untung saya manusia. Untung manusia lemah. Kalau tidak saya tidak akan pernah tahu bagaimana hidup dan menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar